Aku tidak menyangka bahwa semua berlalu dengan begitu cepat... Namun tidak ada yang perlu dibanggakan..
Tulisan ini sangatlah panjang, sekitar 6 lembar kertas folio apabila dicetak. Berisi sekilas kisah hidupku, mulai dari lahir hingga sekarang. Pastikan kondisimu fit sebelum membaca ini, agar Anda tidak lemas karena kebosanan he..
Tahun 1986-an
Saat inilah aku dilahirkan ke dunia, namun aku tidak ingat apapun he.
Tahun 1989-an
Pagi itu hafid kecil menangis sejadi-jadinya karena ingin ikut ortuku yang hendak pergi ke sekolah untuk mengajar. Ortu tidak mengijinkanku ikut, sambil dipegangi oleh nenekku (aku kangen banget ama nenek Jaenah.. moga engkau selalu diberi kesehatan) aku meronta-ronta.. (aku inget waktu itu aku tidak berpakaian sama sekali he..). Waktu itu, ortuku masih tinggal dirumah ibunya ibuku (nenek Palilah). Sedangkan aku setiap pagi diasuh oleh ibunya ayahku (nenek Jaenah). Demikianlah aku setiap paginya saat masih berumur 3 tahunan.
Tahun 1991-an
Aku udah sekolah Taman Kanak-Kanak (TK Aisiyah Bustanul Athfal / ABA Watukebo). Seingatku waktu itu aku adalah anak yang kurang aktif, badanku kecil, dan tidak terlalu menonjol di kelas. Di TK ini aku merasa aman dan nyaman, karena pengajarnya adalah bibiku sendiri (budhe Afiyah namanya.. alhamdulillah sekarang beliau masih sehat). Saat itu jika hari libur, sesekali aku diajak ibuku ke sekolah tempat beliau mengajar yang jaraknya sekitar 3 KM dari rumah kami, beliau menempuhnya dengan sepeda onthel warna hitam.
Di sekolahan ibuku, aku sering menangis gara2 ibuku bilang “Bapaknya Rohmah” untuk menyebut ayahku, aku ingin ibu menyebut “Bapaknya Hafid” hehehe (Rohmah itu nama kakak kandungku yang sekarang di Syurga InsyaAllah.. Amiiin.. moga kita bertemu nanti). Sesekali ayahku juga mengajakku ke sekolah tempat beliau mengajar yang jaraknya mungkin lebih dari 10 KM dari rumah kami, beliau menempuhnya menggunakan sepeda motor Yamaha warna biru tahun 80 (sepeda motor itu akhirnya dijual untuk membangun rumah).
Aku inget betapa sepulang kerja.. ayahku hampir tidak pernah istirahat.. karena memperbaiki sepeda motor tersebut.. (karena saking jeleknya). Aku bilang ke ayahku “Kok nggak dijual aja sih terus beli baru daripada ngrepotin gini”, ayahku hanya tersenyum ciut, mungkin dalam hati beliau bilang “Ayah belum bisa beli lagi nak”. Aku saksikan betapa miskinnya ortuku saat itu. Oh iya, aku inget cita-citaku waktu itu adalah ingin seperti pak Habibie hehe.
Tahun 1993-an
Aku udah tingkat SD sekarang (Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 01 Watukebo).. Aku inget bahwa aku masih seorang anak yang pendiam dan kurang aktif, tapi aku adalah anak yang menonjol dalam bidang akademis lo, dimana, tidak ada kenaikan kelas kecuali aku sebagai juaranya.. nggak juara satu sih tapi selalu juara dua hehehe. Aku inget, temen2ku menghormatiku karena sifat dan prestasiku ini. Aku nggak ngerti kenapa aku selalu juara waktu itu, mungkin karena ibuku “membiasakan” (baca: memaksaku) untuk belajar dan terus belajar, membatasi jam mainku dst (makasih bu.. kalo nggak gitu mau jadi apa hafid?).
Untuk menambah penghasilannya, aku inget bahwa ortuku waktu itu memelihara ayam ras, jumlahnya ratusan, namun jangan berpikir bahwa ayahku sudah menjadi pengusaha besar, yang ada sepertinya pekerjaan itu malah merepotkan beliau sedangkan pemasukan yang didapat tidak signifikan. Di sore hari abis ashar, aku harus belajar Iqro' n Al Qur'an di TPA paling bergengsi waktu itu se kecamatan Ambulu, aku inget betapa aku sesekali dipukul ayahku karena malas berangkat ngaji he...
Tahun 1995-an
Adalah masa sulit bagi keluarga kami.. ketika ortuku memberanikan diri untuk berhutang entahlah sepertinya 6 juta rupiah.. (Waktu itu biaya Haji 7 juta rupiah).. hal itu terpaksa dilakukan karena rumah kami (awalnya merupakan rumah kakaknya ayah) sudah keropos kayu penyangganya disana-sini.. bahaya banget deh.. Ternyata biaya pembangunan rumah membengkak hingga sepeda motor milik ayahku satu2nya yang berwarana biru tsb harus dijual untuk membayar biaya tukang. (Laku 500 ribu kalo nggak salah). Aku inget ayahku terpaksa harus naek sepeda onthel untuk pergi kesekolah dengan jarak yang bermil-mil jauhnya selama bertahun-tahun kedepan.
Tahun 1997-an
Masih seperti tahun2 berikutnya.. hafid kecil adalah sang juara sejati hehehe (bukan sombong lo tapi mau cerita doang) selama lima tahun menjadi pecundang (mulai kelas 1 – 5 juara 2 terus) akhirnya tampuk juara berada ditanganku setelah nilai NEMku tidak terkejar oleh temen2 sekelasku (42,98) he.. “tidak ada yang perlu dibanggakan”, demikian makna tersirat dari ucapan ortuku.
Aku merasakan tidak ada ucapan selamat dari ortuku.. entah mungkin karena aku berharap ortuku memberikanku hadiah yang aku idam-idamkan waktu itu yaitu sepeda BMX Wim Cycle seperti yang temenku punya. Tapi semua itu hanya mimpiku saja, aku tahu ortuku tidak mungkin membelikan sepeda itu, yup itu mahal n kondisi ekonomi kami sangat pas2an.
Aku ingat ketika kadang2 aku merengek pada ayahku.. “Beliin Wim Cycle dunk!” beliau menjawab “Jangan mentang-mentang juara!”, aku hanya bisa tertunduk malu. Aku tahu, banyak temen2 sebayaku diluar sana yang dijanjikan hadiah yang berbagai macam oleh ortunya ketika mereka mendapatkan prestasi akademik, tapi aku nggak pernah he. Hem.. yah dengan berat hati aku akhirnya menyadari bahwa aku bukan anak orang kaya.
Saat itu aku juga mulai mengerti banyak tentang agama dari buku2 yang “terpaksa” harus aku baca.. yup aku suka baca sedangkan ortuku tidak pernah membelikanku komik, novel, koran dsb yang ada hanya buku2 agama hehe maklum ayahku guru agama. Sejak itulah aku selalu ingin diskusi soal agama, meski sayang sekali temen sebayaku tidak ada yang tertarik soal itu.. Mengapa ada Muhammadiyah, Mengapa ada NU? Mengapa berbeda?
Aku belajar sedikit demi sedikit, ayahku juga sering menjelaskan kepadaku. Yups, aku suka bertanya n mendebat ayahku hehe sok tahu gituh. Waktu itu aku sudah khatam bulughul maram (aku baru tahu jika ternyata kitab ini terkenal he) dan sebuah kitab fiqh klasik yang aku nggak tahu apa judulnya, beberapa buku agama milik ayahku juga aku lahap hehe. Bepedoman pada inilah, aku mulai tahu.. n suka mendebat.. harusnya begini harusnya begitu.. sesuai dengan fiqh he.. Aku juga sempat masuk pondok pesantren perintis Al Mukhtar untuk beberapa lama.
Tahun 1999-an
Masih juga sama seperti sebelumnya.. di SMP (SMP Muhammadiyah 9 Watukebo) aku selalu langganan juara 1.. masih terngiang dalam telingaku bahwa “Tidak Ada Yang Perlu Dibanggakan”.. yup.. Lantas aku menyimpulkan sendiri bahwa prestasi akademik adalah suatu keharusan bagiku sedangkan itu bukan sebuah kebanggaan. Aku inget betapa aku bener2 bersusah payah mempertahankan langganan itu.. aku tidak akan membiarkan siapapun lebih baik nilainya daripada aku.. yup nggak dengan cara curang lo.. tapi dengan belajar extrim hehehe.
Di SMP ini aku mendapat banyak pelajaran agama, mulai dari Aqidah, Qur'an Hadits, Fiqh, Sejarah Islam, Mengaji.. yup aku seneng, setidaknya ada temen yang bisa diajak berdiskusi.
Saat inilah kakak kandungku meninggal. Dia terjatuh dari tangga kos kosan, lalu selang satu bulan berikutnya kakaku mulai merasakan sakit dibagian kakinya, pengobatan demi pengobatan dilakukan baik tradisional maupun modern. Tubuhnya tidak bisa memproduksi darah. Dua hari sebelum hari raya, dia masih sempet bercerita ma aku tentang penyakit dan perjalanan pengobatannya, aku merasa kakakku akan hidup lebih lama lagi, kulihat wajahnya ceria sambil aku usapkan kain hangat di kakinya yang bengkak bengkak. Namun dua hari setelah hari raya, dia meninggalkanku untuk selamanya. Demi Allah aku kangen sekali padanya, aku ingat betapa dia baik banget ma aku. Ya Allah pertemukan aku dengannya ditempat yang sebaik-baiknya di Syurgamu nanti, aku ingin bercerita banyak dengannya tentang hidupku di dunia, sampaikan salamku padanya. Hiks.
Tahun 2001-an
Masih juga seperti sebelumnya.. di SMA aku juga langganan juara.. namun tidak lagi yang pertama melainkan 3 besar. Satu pelajaran yang paling aku nggak mudeng adalah fisika. Ketika itu aku berusaha sangat keras untuk mendapatkan posisi pertama, namun gagal.. dia terlalu pandai bagiku hem.. Aku sempat ikut kursus komputer Ms Office.. sepulang sekolah, aku inget betapa cepat sekali aku menyelesaikan kursus itu dibanding teman2ku.. Yup aku terobsesi dengan kecanggihan komputer.
Dalam hal agama, kebetulan ada tetanggaku yang sekolah agama (Mu'alimin) di Yogya.. aku suka banget diskusi agama dengannya, ketika dia pulang liburan.. aku juga sempat membaca buku yang bahasa dan pembahasannya bagus yaitu “Akhlaq Tasawuf” dan “Fiqh Kontemporer”, meski sekarang aku kurang sependapat pada beberapa hal yang dibahas di buku itu, namun setidaknya hal itu menambah khazanah pengetahuanku.
Tahun 2003-an
Saat aku kelas 3 SMA, prestasiku semakin melorot.. meski temen2 masih memperhitungkanku sebagai calon jawara. Saat kelas 3 tsb, jagoan2 di SMA terfavorit di kecamatan Ambulu itu berkumpul.. itulah yang membuatku keliatan aslinya bahwa secara IQ aku bukanlah anak yang jenius.. aku hanya rajin belajar saja.. Terbukti ketika mereka para Jenius yang rajin tsb menjadi lawanku (head to head).. ternyata aku mundur teratur hehehe.. pecundang he.. meski masih 5 besar sih..
Happy ending ketika menjadi juara di SD n SMP membuatku tidak patah semangat.. aku merasa yakin bisa menjadi sang juara di SMA heheh aku belajar sangat keras waktu itu. Oh iya, aku inget waktu itu ada dua orang wanita cantik yang suka dengan aku hehehe (bukan aku lo yang suka, tapi mereka) nggak tahu napa juga kok cinta ma aku heheh.. tapi sekarang keduanya udah menikah mendahului saya hehehe. Waktu itu aku dah ngerti soal programming komputer, belum bisa sih tapi ngerti bahwa programming itu untuk membuat aplikasi2 komputer.. aku sempat membaca buku Pemrograman Pascal.
Disamping itu, keinginanku belajar agama lumayan tinggi waktu itu, bahkan aku ingin nantinya kuliah di Jurusan Agama Islam, tapi aku sadar bahwa aku tidak punya guru yang membimbingku, aku juga bukan seorang santri, hem.. Lalu ayahku menyarankan agar aku belajar bahasa arab pada seorang Kyai ditempatku, namanya Kyai Nurhadi. Aku sempat beberapa lama berguru pada beliau seorang diri.. meski akhirnya berhenti karena kesibukanku menghadapi ujian akhir SMA demikian juga kesibukanku dalam berorganisasi di Ikatan Remaja Muhammadiyah juga sempat terhenti.
Saat SMA ini juga aku sempat berguru pada seorang Faqih, beliau kekeh menggigit kuat Al Qur'an n Sunnah serta masih rajin membaca kitab.. namanya Ust. Salman, beliau sederhana sekali orangnya, sepertinya zuhud banget. Biasanya sehabis maghrib ampe Isya, selama 3 kali seminggu. Akhirnya secara tidak sengaja aku menjumpai dan membaca bukunya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullahuta'ala yang berjudul Sifatus Shalat Nabi, wow, sepertinya inilah yang aku cari selama ini :). Buku yang bagus sekali menurutku waktu itu hehe (aku baru tahu jika ternyata Syaikh itu terkenal sekali he).
Tiba-tiba, ada sebuah surat dari Universitas Teknologi Yogyakarta yang tertuju padaku bahwa aku lolos seleksi dan diterima di Universitas tersebut pada Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Informasi, wow jurusan komputer? aku senang sekali. UTY mengetahu data diriku dari TRYOUT SPMB yang pernah aku ikuti, TryOut tersebut diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jember yang kuliah di Jogja bekerjasama dengan UTY.
Diakhir SMA ternyata aku gagal menjadi yang terbaik, aku juga gagal lolos seleksi STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) padahal aku sudah bela-belain ikut kursus di kota Malang selama 15 hari untuk persiapan ujian STAN, Aku terlalu yakin bakal lolos STAN sehingga membuatku tidak ikut SPMB yang akhirnya ternyata membuat kesempatanku untuk kuliah di Universitas Negeri tertutup. Dengan agak terpaksa akhirnya aku kuliah di UTY.
Tahun 2005-an
Diawal kuliahku, aku sempet ikut Rekruitmen CPNS Jember, aku berharap bisa lolos, tidak muluk2 keinginanku karena jika aku kuliah dijogja aku khawatir akan putus kuliah ditengah jalan.. yup entah mengapa aku meragukan kemampuan finansial kedua ortuku. Sayang, aku nggak lolos. Aku mulai berfikir saat itu bahwa sekarang ini, takdir (rejeki, umur, jodoh) udah ditentukan Allah. Aku tidak bisa seperti dulu lagi, mudah mendapat yang terbaik.
Terpaksa aku harus menikmati kuliahku, yang ada dibenakku waktu itu adalah “aku harus menyelesaikan kuliah dalam tempo yang sesingkat2nya”, mengapa? Yah.. aku dihantui drop out karena khawatir ortuku tidak lagi bisa membiayaiku. Aku juga bertekad untuk belajar terlalu rajin (he lebay) agar nanti selepas kuliah bisa segera dapet kerja n kemudian membantu finansial ortuku. Oh iya, disaat inilah aku mulai tertarik n mencari tahu tentang dia (siapakah dia?).
Tahun 2007-an
Aku inget sekali betapa tidak ada waktu bagiku selama 3,5 tahun kuliah untuk bermain2, jalan2, bersendagurau atau menyibukkan diri dengan kegiatan2 eskul misalnya, tidak ada sama sekali, aku bertekad bahwa kegiatanku haruslah menunjang akademis kuliahku. Aku inget temenku bilang “kamu kok kayak anak SMA! Ngapain belajar?”. Aku jg inget betapa sangat kerasnya aku belajar programming waktu itu, siang malam sama saja, sehat atau sakit tetap keukeuh hehe.
Hasilnya, Alhamdulillah di semester awal IP ku 4,00 dan saat wisuda IPK ku 3,91. Jika ada yang berpikir bahwa itu aku dapatkan dengan mudah.. itu salah besar. Oh iya, aku inget ayahku waktu itu bilang ke aku “Fid.. dengan IPKmu yang setinggi itu, adakah beasiswa dari kampus untuk melanjutkan study?”, aku hanya bisa terdiam sejenak, aku tahu mereka ingin aku kuliah lebih tinggi lagi, namun aku tahu bahwa betapa saat itu tidak ada reward beasiswa yang ditawarkan kampus padaku.. hem.. aku lalu bilang ke ayahku “Ayah.., Tidak Ada Yang Perlu Dibanggakan, IPK tidak selalu menunjukkan Prestasi, sedangkan aku tidaklah pantas mendapatkan beasiswa karena prestasi”, aku ingin menangis waktu itu.
Aku segera bangkit, yups saat itu bukan waktunya bersedih, tujuan utamaku adalah agar tidak dropout n cepat dapet kerja. Alhamdulillah selang beberapa hari setelah wisudaku, aku diterima kerja sebagai web programmer di sebuah perusahaan advertising internet di Surabaya dengan gaji 2 juta rupiah he.. Waktu disurabaya aku juga sempet iseng aja sih melamar di perusahaan lain n Alhamdulillah diterima juga, namun karena hanya iseng ya nggak aku masukin.. aku berkesimpulan bahwa apabila kita serius terhadap sesuatu (misalnya: kuliah yang serius he) maka kita akan mudah memetik buahnya. Baca deh surat Al Insyirah, moga bermanfaat. Oh iya, kebetulan bulan Juli 2008 ada seleksi CPNS Depkeu dan aku ikutin tahap2 tesnya bahkan aku sempet ikut pelatihan ujian CPNS yang diadakan oleh GPS Jakarta aku keluarkan uang sekitar 300ribu untuk mengikuti pelatihan itu .. n Alhamdulillah, aku lolos tahap demi tahap. Tetap dihatiku tetap berkata “tidak ada yang perlu dibanggakan, aku ingin membantu finansial ortuku”.
Tahun 2009
Inilah awal aku dijakarta, sebuah kota baru bagiku.. yang selama ini diceritakan sebagai kota yang keras lagi kejam.. “kejamnya ibu tiri tidaklah sekejam ibukota hehe”. Dulu di tahun 2008 aku sempet berkhayal bahwa kota Jakarta akan aku kuasai suatu saat nanti hehehe (khayalan tingkat tinggi). Disinilah awal aku punya uang yang cukup sehingga aku bisa membantu finansial ortuku.
Meski aku sadar bahwa kondisi emosionalku tidaklah terlalu bagus pada saat2 itu, mungkin karena baru lepas dari kuliah dimana dulu aku harus belajar dalam presure yang tinggi n ketat agar cepat lulus. Perubahan itu terus terang membuat fikiranku kacau dan balau, betapapun aku masih anak kemaren sore, sepertinya aku bukan aku yang aku kenal dulu, yup sepertinya bukan aku, hehehe, entahlah apa yang terjadi.
Alhamdulillah, Allah mengingatkanku, aku sedikit demi sedikit memperbaiki diriku, “Tidak ada yang perlu dibanggakan!” apakah saya sudah baik sekarang? Tidak! Belum! Ana masih jahlun / bodoh dalam hal agama.. masih banyak yang harus kupelajari dalam agama ini.. moga Allah mempermudahku.. kemudian aku putuskan untuk segera menikah.. agar hatiku lebih terjaga.. agar separuh agamaku tercukupi.. :) dan agar separuh hatiku di kota kenangan itu (Yogya) menyatu.
Aku tidak menyangka bahwa semua berlalu dengan begitu cepat... namun tidak ada yang perlu dibanggakan.
Aku tidak menyangka kegagalan demi kegagalan selepas aku SMA sebenarnya merupakan kesuksesan yang tertunda.. Allah menggantinya dengan yang lebih baik insyaAllah, aku baru tahu hikmahnya sekarang huwallahua'lam:
1. Aku gagal lolos ujian saringan STAN tahun 2004 yang merupakan pintu utama untuk masuk menjadi pegawai Departemen Keuangan. Hikmahnnya adalah : ternyata Allah memasukkanku ke Depkeu melalui jalur lain, yaitu penerimaan sarjana. Ternyata lebih enak masuk Depkeu sebagai Sarjana karena secara pangkat dan golongan lebih tinggi dari mereka lulusan Diploma STAN meski mereka masuk STAN sejak tahun 2004 sekalipun.
2. Aku gagal lolos ujian CPNS Jember tahun 2004.. Hikmahnya : andaikan aku lolos waktu itu maka aku tidak bisa jadi PNS Depkeu, tidak tahu programming komputer, kuper hehehe, tidak ketemu dia. Hehe
3. Aku tidak ikut SPMB dan aku masuk UTY Jurusan Teknik Informatika. Hikmahnya : Aku bisa sekolah di Jogja n Allah mengenalkanku padanya, Aku bisa programming yang ternyata menunjang pekerjaanku sekarang, Biaya kuliah di UTY murah meriah sehingga orang tuaku tidak terlalu berat membiayaiku.. berat sih tapi tidak terlalu.. Aku bisa dapet IPK yang tinggi disana sehingga aku bisa ikut seleksi CPNS Depkeu yang waktu itu mensyaratkan IPK 3,00
4. Aku tidak mendapat tawaran beasiswa dari kampus. Hikmahnya adalah aku bisa segera dapet kerja, mungkin aku masih kuliah sekarang, jikalo aku dapet beasiswa. Mungkin aku belum berani menikahinya.. dan mungkin menangis hehe melihat dia dinikahi orang lain.
“Tidak ada yang perlu dibanggakan” yang aku pegang kuat, sudah cukup bagiku, melihat kedua orang tuaku tersenyum bahagia atas apa yang aku dapatkan, bukan untuk sombong, namun sekedar ucapan “aku sayang kalian” dan rasa terima kasihku yang terdalam.
Aku tidak menyangka bahwa semua berlalu dengan begitu cepat... 24 tahun kurang beberapa hari sudah aku hidup dimuka bumi ini, sedangkan belum ada sumbangsihku untuk agamaku, padahal maut bisa datang esok pagi, itulah mengapa tidak ada yang perlu dibanggakan.
“Indah pada waktunya” demikianlah dia pernah berkata. Akhirnya hanya kepada Allah sajalah aku kembali dan kembalikan semuanya.. Malulah aku jikalo aku tidak menjadi ahli syukur.. maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? Allah telah menuliskan semua jalan hidupku jauh sebelum aku dilahirkan, ini jelas meyakinkanku bahwa tidak ada yang perlu dibanggakan.
Tidaklah ana bermaksud sombong dalam menulis ini, tidak untuk membanggakan diri, tidak pula ingin dipuji. Ana hanya ingin mengabadikan bagian dari kisah hidup ana diblog ana ini.. semoga ada manfaat yang bisa dipetik disana.. Afwan jika ada kata2 yang kurang berkenan..
“Tidak Ada Yang Perlu Dibanggakan”.
Nuun Wal Qolami Wamaa Yasthuruun
Tulisan ini sangatlah panjang, sekitar 6 lembar kertas folio apabila dicetak. Berisi sekilas kisah hidupku, mulai dari lahir hingga sekarang. Pastikan kondisimu fit sebelum membaca ini, agar Anda tidak lemas karena kebosanan he..
Tahun 1986-an
Saat inilah aku dilahirkan ke dunia, namun aku tidak ingat apapun he.
Tahun 1989-an
Pagi itu hafid kecil menangis sejadi-jadinya karena ingin ikut ortuku yang hendak pergi ke sekolah untuk mengajar. Ortu tidak mengijinkanku ikut, sambil dipegangi oleh nenekku (aku kangen banget ama nenek Jaenah.. moga engkau selalu diberi kesehatan) aku meronta-ronta.. (aku inget waktu itu aku tidak berpakaian sama sekali he..). Waktu itu, ortuku masih tinggal dirumah ibunya ibuku (nenek Palilah). Sedangkan aku setiap pagi diasuh oleh ibunya ayahku (nenek Jaenah). Demikianlah aku setiap paginya saat masih berumur 3 tahunan.
Tahun 1991-an
Aku udah sekolah Taman Kanak-Kanak (TK Aisiyah Bustanul Athfal / ABA Watukebo). Seingatku waktu itu aku adalah anak yang kurang aktif, badanku kecil, dan tidak terlalu menonjol di kelas. Di TK ini aku merasa aman dan nyaman, karena pengajarnya adalah bibiku sendiri (budhe Afiyah namanya.. alhamdulillah sekarang beliau masih sehat). Saat itu jika hari libur, sesekali aku diajak ibuku ke sekolah tempat beliau mengajar yang jaraknya sekitar 3 KM dari rumah kami, beliau menempuhnya dengan sepeda onthel warna hitam.
Di sekolahan ibuku, aku sering menangis gara2 ibuku bilang “Bapaknya Rohmah” untuk menyebut ayahku, aku ingin ibu menyebut “Bapaknya Hafid” hehehe (Rohmah itu nama kakak kandungku yang sekarang di Syurga InsyaAllah.. Amiiin.. moga kita bertemu nanti). Sesekali ayahku juga mengajakku ke sekolah tempat beliau mengajar yang jaraknya mungkin lebih dari 10 KM dari rumah kami, beliau menempuhnya menggunakan sepeda motor Yamaha warna biru tahun 80 (sepeda motor itu akhirnya dijual untuk membangun rumah).
Aku inget betapa sepulang kerja.. ayahku hampir tidak pernah istirahat.. karena memperbaiki sepeda motor tersebut.. (karena saking jeleknya). Aku bilang ke ayahku “Kok nggak dijual aja sih terus beli baru daripada ngrepotin gini”, ayahku hanya tersenyum ciut, mungkin dalam hati beliau bilang “Ayah belum bisa beli lagi nak”. Aku saksikan betapa miskinnya ortuku saat itu. Oh iya, aku inget cita-citaku waktu itu adalah ingin seperti pak Habibie hehe.
Tahun 1993-an
Aku udah tingkat SD sekarang (Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 01 Watukebo).. Aku inget bahwa aku masih seorang anak yang pendiam dan kurang aktif, tapi aku adalah anak yang menonjol dalam bidang akademis lo, dimana, tidak ada kenaikan kelas kecuali aku sebagai juaranya.. nggak juara satu sih tapi selalu juara dua hehehe. Aku inget, temen2ku menghormatiku karena sifat dan prestasiku ini. Aku nggak ngerti kenapa aku selalu juara waktu itu, mungkin karena ibuku “membiasakan” (baca: memaksaku) untuk belajar dan terus belajar, membatasi jam mainku dst (makasih bu.. kalo nggak gitu mau jadi apa hafid?).
Untuk menambah penghasilannya, aku inget bahwa ortuku waktu itu memelihara ayam ras, jumlahnya ratusan, namun jangan berpikir bahwa ayahku sudah menjadi pengusaha besar, yang ada sepertinya pekerjaan itu malah merepotkan beliau sedangkan pemasukan yang didapat tidak signifikan. Di sore hari abis ashar, aku harus belajar Iqro' n Al Qur'an di TPA paling bergengsi waktu itu se kecamatan Ambulu, aku inget betapa aku sesekali dipukul ayahku karena malas berangkat ngaji he...
Tahun 1995-an
Adalah masa sulit bagi keluarga kami.. ketika ortuku memberanikan diri untuk berhutang entahlah sepertinya 6 juta rupiah.. (Waktu itu biaya Haji 7 juta rupiah).. hal itu terpaksa dilakukan karena rumah kami (awalnya merupakan rumah kakaknya ayah) sudah keropos kayu penyangganya disana-sini.. bahaya banget deh.. Ternyata biaya pembangunan rumah membengkak hingga sepeda motor milik ayahku satu2nya yang berwarana biru tsb harus dijual untuk membayar biaya tukang. (Laku 500 ribu kalo nggak salah). Aku inget ayahku terpaksa harus naek sepeda onthel untuk pergi kesekolah dengan jarak yang bermil-mil jauhnya selama bertahun-tahun kedepan.
Tahun 1997-an
Masih seperti tahun2 berikutnya.. hafid kecil adalah sang juara sejati hehehe (bukan sombong lo tapi mau cerita doang) selama lima tahun menjadi pecundang (mulai kelas 1 – 5 juara 2 terus) akhirnya tampuk juara berada ditanganku setelah nilai NEMku tidak terkejar oleh temen2 sekelasku (42,98) he.. “tidak ada yang perlu dibanggakan”, demikian makna tersirat dari ucapan ortuku.
Aku merasakan tidak ada ucapan selamat dari ortuku.. entah mungkin karena aku berharap ortuku memberikanku hadiah yang aku idam-idamkan waktu itu yaitu sepeda BMX Wim Cycle seperti yang temenku punya. Tapi semua itu hanya mimpiku saja, aku tahu ortuku tidak mungkin membelikan sepeda itu, yup itu mahal n kondisi ekonomi kami sangat pas2an.
Aku ingat ketika kadang2 aku merengek pada ayahku.. “Beliin Wim Cycle dunk!” beliau menjawab “Jangan mentang-mentang juara!”, aku hanya bisa tertunduk malu. Aku tahu, banyak temen2 sebayaku diluar sana yang dijanjikan hadiah yang berbagai macam oleh ortunya ketika mereka mendapatkan prestasi akademik, tapi aku nggak pernah he. Hem.. yah dengan berat hati aku akhirnya menyadari bahwa aku bukan anak orang kaya.
Saat itu aku juga mulai mengerti banyak tentang agama dari buku2 yang “terpaksa” harus aku baca.. yup aku suka baca sedangkan ortuku tidak pernah membelikanku komik, novel, koran dsb yang ada hanya buku2 agama hehe maklum ayahku guru agama. Sejak itulah aku selalu ingin diskusi soal agama, meski sayang sekali temen sebayaku tidak ada yang tertarik soal itu.. Mengapa ada Muhammadiyah, Mengapa ada NU? Mengapa berbeda?
Aku belajar sedikit demi sedikit, ayahku juga sering menjelaskan kepadaku. Yups, aku suka bertanya n mendebat ayahku hehe sok tahu gituh. Waktu itu aku sudah khatam bulughul maram (aku baru tahu jika ternyata kitab ini terkenal he) dan sebuah kitab fiqh klasik yang aku nggak tahu apa judulnya, beberapa buku agama milik ayahku juga aku lahap hehe. Bepedoman pada inilah, aku mulai tahu.. n suka mendebat.. harusnya begini harusnya begitu.. sesuai dengan fiqh he.. Aku juga sempat masuk pondok pesantren perintis Al Mukhtar untuk beberapa lama.
Tahun 1999-an
Masih juga sama seperti sebelumnya.. di SMP (SMP Muhammadiyah 9 Watukebo) aku selalu langganan juara 1.. masih terngiang dalam telingaku bahwa “Tidak Ada Yang Perlu Dibanggakan”.. yup.. Lantas aku menyimpulkan sendiri bahwa prestasi akademik adalah suatu keharusan bagiku sedangkan itu bukan sebuah kebanggaan. Aku inget betapa aku bener2 bersusah payah mempertahankan langganan itu.. aku tidak akan membiarkan siapapun lebih baik nilainya daripada aku.. yup nggak dengan cara curang lo.. tapi dengan belajar extrim hehehe.
Di SMP ini aku mendapat banyak pelajaran agama, mulai dari Aqidah, Qur'an Hadits, Fiqh, Sejarah Islam, Mengaji.. yup aku seneng, setidaknya ada temen yang bisa diajak berdiskusi.
Saat inilah kakak kandungku meninggal. Dia terjatuh dari tangga kos kosan, lalu selang satu bulan berikutnya kakaku mulai merasakan sakit dibagian kakinya, pengobatan demi pengobatan dilakukan baik tradisional maupun modern. Tubuhnya tidak bisa memproduksi darah. Dua hari sebelum hari raya, dia masih sempet bercerita ma aku tentang penyakit dan perjalanan pengobatannya, aku merasa kakakku akan hidup lebih lama lagi, kulihat wajahnya ceria sambil aku usapkan kain hangat di kakinya yang bengkak bengkak. Namun dua hari setelah hari raya, dia meninggalkanku untuk selamanya. Demi Allah aku kangen sekali padanya, aku ingat betapa dia baik banget ma aku. Ya Allah pertemukan aku dengannya ditempat yang sebaik-baiknya di Syurgamu nanti, aku ingin bercerita banyak dengannya tentang hidupku di dunia, sampaikan salamku padanya. Hiks.
Tahun 2001-an
Masih juga seperti sebelumnya.. di SMA aku juga langganan juara.. namun tidak lagi yang pertama melainkan 3 besar. Satu pelajaran yang paling aku nggak mudeng adalah fisika. Ketika itu aku berusaha sangat keras untuk mendapatkan posisi pertama, namun gagal.. dia terlalu pandai bagiku hem.. Aku sempat ikut kursus komputer Ms Office.. sepulang sekolah, aku inget betapa cepat sekali aku menyelesaikan kursus itu dibanding teman2ku.. Yup aku terobsesi dengan kecanggihan komputer.
Dalam hal agama, kebetulan ada tetanggaku yang sekolah agama (Mu'alimin) di Yogya.. aku suka banget diskusi agama dengannya, ketika dia pulang liburan.. aku juga sempat membaca buku yang bahasa dan pembahasannya bagus yaitu “Akhlaq Tasawuf” dan “Fiqh Kontemporer”, meski sekarang aku kurang sependapat pada beberapa hal yang dibahas di buku itu, namun setidaknya hal itu menambah khazanah pengetahuanku.
Tahun 2003-an
Saat aku kelas 3 SMA, prestasiku semakin melorot.. meski temen2 masih memperhitungkanku sebagai calon jawara. Saat kelas 3 tsb, jagoan2 di SMA terfavorit di kecamatan Ambulu itu berkumpul.. itulah yang membuatku keliatan aslinya bahwa secara IQ aku bukanlah anak yang jenius.. aku hanya rajin belajar saja.. Terbukti ketika mereka para Jenius yang rajin tsb menjadi lawanku (head to head).. ternyata aku mundur teratur hehehe.. pecundang he.. meski masih 5 besar sih..
Happy ending ketika menjadi juara di SD n SMP membuatku tidak patah semangat.. aku merasa yakin bisa menjadi sang juara di SMA heheh aku belajar sangat keras waktu itu. Oh iya, aku inget waktu itu ada dua orang wanita cantik yang suka dengan aku hehehe (bukan aku lo yang suka, tapi mereka) nggak tahu napa juga kok cinta ma aku heheh.. tapi sekarang keduanya udah menikah mendahului saya hehehe. Waktu itu aku dah ngerti soal programming komputer, belum bisa sih tapi ngerti bahwa programming itu untuk membuat aplikasi2 komputer.. aku sempat membaca buku Pemrograman Pascal.
Disamping itu, keinginanku belajar agama lumayan tinggi waktu itu, bahkan aku ingin nantinya kuliah di Jurusan Agama Islam, tapi aku sadar bahwa aku tidak punya guru yang membimbingku, aku juga bukan seorang santri, hem.. Lalu ayahku menyarankan agar aku belajar bahasa arab pada seorang Kyai ditempatku, namanya Kyai Nurhadi. Aku sempat beberapa lama berguru pada beliau seorang diri.. meski akhirnya berhenti karena kesibukanku menghadapi ujian akhir SMA demikian juga kesibukanku dalam berorganisasi di Ikatan Remaja Muhammadiyah juga sempat terhenti.
Saat SMA ini juga aku sempat berguru pada seorang Faqih, beliau kekeh menggigit kuat Al Qur'an n Sunnah serta masih rajin membaca kitab.. namanya Ust. Salman, beliau sederhana sekali orangnya, sepertinya zuhud banget. Biasanya sehabis maghrib ampe Isya, selama 3 kali seminggu. Akhirnya secara tidak sengaja aku menjumpai dan membaca bukunya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullahuta'ala yang berjudul Sifatus Shalat Nabi, wow, sepertinya inilah yang aku cari selama ini :). Buku yang bagus sekali menurutku waktu itu hehe (aku baru tahu jika ternyata Syaikh itu terkenal sekali he).
Tiba-tiba, ada sebuah surat dari Universitas Teknologi Yogyakarta yang tertuju padaku bahwa aku lolos seleksi dan diterima di Universitas tersebut pada Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Informasi, wow jurusan komputer? aku senang sekali. UTY mengetahu data diriku dari TRYOUT SPMB yang pernah aku ikuti, TryOut tersebut diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jember yang kuliah di Jogja bekerjasama dengan UTY.
Diakhir SMA ternyata aku gagal menjadi yang terbaik, aku juga gagal lolos seleksi STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) padahal aku sudah bela-belain ikut kursus di kota Malang selama 15 hari untuk persiapan ujian STAN, Aku terlalu yakin bakal lolos STAN sehingga membuatku tidak ikut SPMB yang akhirnya ternyata membuat kesempatanku untuk kuliah di Universitas Negeri tertutup. Dengan agak terpaksa akhirnya aku kuliah di UTY.
Tahun 2005-an
Diawal kuliahku, aku sempet ikut Rekruitmen CPNS Jember, aku berharap bisa lolos, tidak muluk2 keinginanku karena jika aku kuliah dijogja aku khawatir akan putus kuliah ditengah jalan.. yup entah mengapa aku meragukan kemampuan finansial kedua ortuku. Sayang, aku nggak lolos. Aku mulai berfikir saat itu bahwa sekarang ini, takdir (rejeki, umur, jodoh) udah ditentukan Allah. Aku tidak bisa seperti dulu lagi, mudah mendapat yang terbaik.
Terpaksa aku harus menikmati kuliahku, yang ada dibenakku waktu itu adalah “aku harus menyelesaikan kuliah dalam tempo yang sesingkat2nya”, mengapa? Yah.. aku dihantui drop out karena khawatir ortuku tidak lagi bisa membiayaiku. Aku juga bertekad untuk belajar terlalu rajin (he lebay) agar nanti selepas kuliah bisa segera dapet kerja n kemudian membantu finansial ortuku. Oh iya, disaat inilah aku mulai tertarik n mencari tahu tentang dia (siapakah dia?).
Tahun 2007-an
Aku inget sekali betapa tidak ada waktu bagiku selama 3,5 tahun kuliah untuk bermain2, jalan2, bersendagurau atau menyibukkan diri dengan kegiatan2 eskul misalnya, tidak ada sama sekali, aku bertekad bahwa kegiatanku haruslah menunjang akademis kuliahku. Aku inget temenku bilang “kamu kok kayak anak SMA! Ngapain belajar?”. Aku jg inget betapa sangat kerasnya aku belajar programming waktu itu, siang malam sama saja, sehat atau sakit tetap keukeuh hehe.
Hasilnya, Alhamdulillah di semester awal IP ku 4,00 dan saat wisuda IPK ku 3,91. Jika ada yang berpikir bahwa itu aku dapatkan dengan mudah.. itu salah besar. Oh iya, aku inget ayahku waktu itu bilang ke aku “Fid.. dengan IPKmu yang setinggi itu, adakah beasiswa dari kampus untuk melanjutkan study?”, aku hanya bisa terdiam sejenak, aku tahu mereka ingin aku kuliah lebih tinggi lagi, namun aku tahu bahwa betapa saat itu tidak ada reward beasiswa yang ditawarkan kampus padaku.. hem.. aku lalu bilang ke ayahku “Ayah.., Tidak Ada Yang Perlu Dibanggakan, IPK tidak selalu menunjukkan Prestasi, sedangkan aku tidaklah pantas mendapatkan beasiswa karena prestasi”, aku ingin menangis waktu itu.
Aku segera bangkit, yups saat itu bukan waktunya bersedih, tujuan utamaku adalah agar tidak dropout n cepat dapet kerja. Alhamdulillah selang beberapa hari setelah wisudaku, aku diterima kerja sebagai web programmer di sebuah perusahaan advertising internet di Surabaya dengan gaji 2 juta rupiah he.. Waktu disurabaya aku juga sempet iseng aja sih melamar di perusahaan lain n Alhamdulillah diterima juga, namun karena hanya iseng ya nggak aku masukin.. aku berkesimpulan bahwa apabila kita serius terhadap sesuatu (misalnya: kuliah yang serius he) maka kita akan mudah memetik buahnya. Baca deh surat Al Insyirah, moga bermanfaat. Oh iya, kebetulan bulan Juli 2008 ada seleksi CPNS Depkeu dan aku ikutin tahap2 tesnya bahkan aku sempet ikut pelatihan ujian CPNS yang diadakan oleh GPS Jakarta aku keluarkan uang sekitar 300ribu untuk mengikuti pelatihan itu .. n Alhamdulillah, aku lolos tahap demi tahap. Tetap dihatiku tetap berkata “tidak ada yang perlu dibanggakan, aku ingin membantu finansial ortuku”.
Tahun 2009
Inilah awal aku dijakarta, sebuah kota baru bagiku.. yang selama ini diceritakan sebagai kota yang keras lagi kejam.. “kejamnya ibu tiri tidaklah sekejam ibukota hehe”. Dulu di tahun 2008 aku sempet berkhayal bahwa kota Jakarta akan aku kuasai suatu saat nanti hehehe (khayalan tingkat tinggi). Disinilah awal aku punya uang yang cukup sehingga aku bisa membantu finansial ortuku.
Meski aku sadar bahwa kondisi emosionalku tidaklah terlalu bagus pada saat2 itu, mungkin karena baru lepas dari kuliah dimana dulu aku harus belajar dalam presure yang tinggi n ketat agar cepat lulus. Perubahan itu terus terang membuat fikiranku kacau dan balau, betapapun aku masih anak kemaren sore, sepertinya aku bukan aku yang aku kenal dulu, yup sepertinya bukan aku, hehehe, entahlah apa yang terjadi.
Alhamdulillah, Allah mengingatkanku, aku sedikit demi sedikit memperbaiki diriku, “Tidak ada yang perlu dibanggakan!” apakah saya sudah baik sekarang? Tidak! Belum! Ana masih jahlun / bodoh dalam hal agama.. masih banyak yang harus kupelajari dalam agama ini.. moga Allah mempermudahku.. kemudian aku putuskan untuk segera menikah.. agar hatiku lebih terjaga.. agar separuh agamaku tercukupi.. :) dan agar separuh hatiku di kota kenangan itu (Yogya) menyatu.
Aku tidak menyangka bahwa semua berlalu dengan begitu cepat... namun tidak ada yang perlu dibanggakan.
Aku tidak menyangka kegagalan demi kegagalan selepas aku SMA sebenarnya merupakan kesuksesan yang tertunda.. Allah menggantinya dengan yang lebih baik insyaAllah, aku baru tahu hikmahnya sekarang huwallahua'lam:
1. Aku gagal lolos ujian saringan STAN tahun 2004 yang merupakan pintu utama untuk masuk menjadi pegawai Departemen Keuangan. Hikmahnnya adalah : ternyata Allah memasukkanku ke Depkeu melalui jalur lain, yaitu penerimaan sarjana. Ternyata lebih enak masuk Depkeu sebagai Sarjana karena secara pangkat dan golongan lebih tinggi dari mereka lulusan Diploma STAN meski mereka masuk STAN sejak tahun 2004 sekalipun.
2. Aku gagal lolos ujian CPNS Jember tahun 2004.. Hikmahnya : andaikan aku lolos waktu itu maka aku tidak bisa jadi PNS Depkeu, tidak tahu programming komputer, kuper hehehe, tidak ketemu dia. Hehe
3. Aku tidak ikut SPMB dan aku masuk UTY Jurusan Teknik Informatika. Hikmahnya : Aku bisa sekolah di Jogja n Allah mengenalkanku padanya, Aku bisa programming yang ternyata menunjang pekerjaanku sekarang, Biaya kuliah di UTY murah meriah sehingga orang tuaku tidak terlalu berat membiayaiku.. berat sih tapi tidak terlalu.. Aku bisa dapet IPK yang tinggi disana sehingga aku bisa ikut seleksi CPNS Depkeu yang waktu itu mensyaratkan IPK 3,00
4. Aku tidak mendapat tawaran beasiswa dari kampus. Hikmahnya adalah aku bisa segera dapet kerja, mungkin aku masih kuliah sekarang, jikalo aku dapet beasiswa. Mungkin aku belum berani menikahinya.. dan mungkin menangis hehe melihat dia dinikahi orang lain.
“Tidak ada yang perlu dibanggakan” yang aku pegang kuat, sudah cukup bagiku, melihat kedua orang tuaku tersenyum bahagia atas apa yang aku dapatkan, bukan untuk sombong, namun sekedar ucapan “aku sayang kalian” dan rasa terima kasihku yang terdalam.
Aku tidak menyangka bahwa semua berlalu dengan begitu cepat... 24 tahun kurang beberapa hari sudah aku hidup dimuka bumi ini, sedangkan belum ada sumbangsihku untuk agamaku, padahal maut bisa datang esok pagi, itulah mengapa tidak ada yang perlu dibanggakan.
“Indah pada waktunya” demikianlah dia pernah berkata. Akhirnya hanya kepada Allah sajalah aku kembali dan kembalikan semuanya.. Malulah aku jikalo aku tidak menjadi ahli syukur.. maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? Allah telah menuliskan semua jalan hidupku jauh sebelum aku dilahirkan, ini jelas meyakinkanku bahwa tidak ada yang perlu dibanggakan.
Tidaklah ana bermaksud sombong dalam menulis ini, tidak untuk membanggakan diri, tidak pula ingin dipuji. Ana hanya ingin mengabadikan bagian dari kisah hidup ana diblog ana ini.. semoga ada manfaat yang bisa dipetik disana.. Afwan jika ada kata2 yang kurang berkenan..
“Tidak Ada Yang Perlu Dibanggakan”.
Nuun Wal Qolami Wamaa Yasthuruun
Read more....






